Daycare di Jogja berizin resmi Kemdikbud – Minggu-minggu pertama setelah kelahiran bayi sering dibayangkan sebagai masa yang penuh kebahagiaan. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada ibu yang merasa sangat bahagia ketika melihat bayinya, tetapi beberapa jam kemudian tiba-tiba menangis. Ada yang merasa cemas, mudah tersinggung, sulit tidur, atau merasa kewalahan dengan peran barunya sebagai ibu.
Di sisi lain, tubuh juga sedang berada dalam kondisi yang sangat lelah. Bayi perlu menyusu setiap beberapa jam, tidur ibu terputus, pekerjaan rumah tetap berjalan, dan tubuh masih dalam proses pemulihan setelah persalinan.
Kondisi inilah yang sering membuat orang tua sulit membedakan baby blues dan kelelahan setelah melahirkan.
Padahal, keduanya berbeda meskipun dapat muncul bersamaan dan saling memperberat.
Jika Bunda sedang mengalaminya, satu hal penting yang perlu diketahui adalah: merasa sedih, lelah, kewalahan, atau membutuhkan bantuan tidak berarti Bunda gagal menjadi ibu.
Baby blues merupakan kondisi yang sangat umum setelah melahirkan. Sementara kelelahan adalah respons tubuh terhadap kurang tidur, aktivitas merawat bayi, dan proses pemulihan fisik.
Artikel ini membantu Bunda mengenali perbedaan baby blues dan kelelahan, memahami penyebab serta gejalanya, mengetahui kapan perlu mencari bantuan profesional, dan memahami bagaimana pasangan serta keluarga dapat membantu.
Apa Itu Baby Blues?
Baby blues atau postpartum blues adalah perubahan suasana hati yang relatif ringan dan sementara setelah melahirkan.
Ibu dapat merasa sedih, mudah menangis, cemas, mudah tersinggung, atau mengalami perubahan mood yang cukup cepat.
Kondisi ini sangat umum. Sumber yang digunakan dalam artikel ini menyebutkan bahwa baby blues dapat dialami sekitar 50–85% ibu setelah melahirkan, sehingga kondisi ini bukan sesuatu yang aneh atau menunjukkan bahwa seorang ibu tidak mampu menjalankan perannya.
Baby blues umumnya mulai muncul sekitar hari ke-2 hingga ke-5 setelah persalinan, dapat mencapai puncak sekitar hari ke-4 atau ke-5, kemudian berangsur membaik dan biasanya mereda dalam waktu sekitar 1–2 minggu.
Baby Blues Bukan Berarti Ibu Tidak Bersyukur
Salah satu hal yang penting diluruskan adalah anggapan bahwa ibu yang menangis atau merasa sedih setelah melahirkan berarti kurang bersyukur.
Baby blues bukan ukuran rasa syukur dan bukan pula ukuran seberapa besar seorang ibu mencintai bayinya.
Perubahan hormon, kurang tidur, pemulihan fisik, penyesuaian terhadap peran baru, serta perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi kondisi emosional ibu.
Karena itu, ibu membutuhkan dukungan dan pengertian, bukan penilaian.
Gejala Baby Blues yang Perlu Dikenali
Setiap ibu dapat mengalami pengalaman yang berbeda. Namun, beberapa gejala baby blues yang umum antara lain:
- Mood berubah dengan cepat, misalnya dari bahagia menjadi sedih atau marah.
- Mudah menangis tanpa alasan yang jelas.
- Merasa cemas berlebihan terhadap kondisi bayi.
- Mudah tersinggung atau marah karena hal kecil.
- Sulit tidur meskipun tubuh sangat lelah.
- Sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan.
- Merasa kewalahan menghadapi peran baru sebagai ibu.
Gejala tersebut dapat muncul selama beberapa jam dalam sehari dan kemudian membaik.
Namun, Bunda tetap perlu memperhatikan durasi, intensitas, dan dampak gejala terhadap kehidupan sehari-hari.
Apa Penyebab Baby Blues?
Penyebab baby blues tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu faktor. Beberapa perubahan dan kondisi setelah melahirkan dapat berkontribusi terhadap munculnya perubahan suasana hati.
1. Perubahan Hormon Setelah Melahirkan
Setelah plasenta lahir, kadar hormon seperti estrogen dan progesteron mengalami perubahan yang sangat cepat.
Perubahan hormonal tersebut dapat ikut memengaruhi suasana hati ibu.
2. Kurang Tidur dan Pemulihan Fisik
Ibu sedang memulihkan tubuh setelah persalinan, tetapi pada saat yang sama harus bangun untuk menyusui, mengganti popok, menggendong, dan memenuhi kebutuhan bayi.
Tidur yang terputus-putus dapat membuat tubuh dan emosi semakin terkuras.
3. Penyesuaian dengan Peran Baru
Menjadi ibu membawa perubahan besar.
Ibu mungkin mulai bertanya:
“Apakah saya bisa merawat bayi dengan benar?”
“Kenapa saya merasa tidak bahagia setiap saat?”
“Apakah saya ibu yang baik?”
Ketakutan, kebingungan, serta tekanan untuk menjadi ibu yang “sempurna” dapat menambah beban emosional.
4. Kurangnya Dukungan Sosial
Dukungan pasangan dan keluarga memiliki peran penting dalam membantu ibu menghadapi masa setelah melahirkan.
Ketika ibu merasa harus menghadapi semuanya sendirian, beban fisik dan emosional dapat terasa semakin berat.
5. Faktor Lain
Beberapa faktor lain juga dapat berkontribusi, seperti usia, pengalaman melahirkan sebelumnya, riwayat gangguan mood, serta ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kehidupan setelah memiliki bayi.
Baby Blues vs Kelelahan Setelah Melahirkan: Apa Bedanya?
Baby blues dan kelelahan sering dianggap sama karena keduanya dapat membuat ibu mudah menangis, sensitif, sulit berkonsentrasi, dan merasa kewalahan.
Padahal, sumber masalahnya tidak sepenuhnya sama.
| Aspek | Kelelahan | Baby Blues |
| Penyebab utama | Kurang tidur dan beban fisik | Perubahan hormon dan adaptasi emosional |
| Yang dirasakan | Tubuh lemas, mengantuk, sangat capek | Mood berubah, mudah menangis, cemas |
| Hal yang membantu | Tidur, istirahat, bantuan merawat bayi | Waktu, dukungan emosional, tidur cukup |
| Durasi | Dapat berlangsung selama pola tidur belum stabil | Umumnya membaik dalam sekitar 2 minggu |
Keduanya juga dapat terjadi bersamaan.
Kelelahan dapat memperburuk kondisi emosional, sementara baby blues dapat membuat rasa lelah terasa semakin berat.
Kapan Kelelahan Tidak Lagi Bisa Dianggap “Sekadar Capek”?
Bunda perlu lebih memperhatikan kondisi diri apabila:
- tubuh terasa benar-benar kosong, bukan sekadar mengantuk;
- sulit berpikir jernih;
- mudah lupa;
- emosi menjadi sangat reaktif;
- merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri;
- kelelahan tidak membaik meskipun sudah mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
Kelelahan berkepanjangan yang tidak membaik dengan istirahat juga perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Cara Membantu Ibu yang Mengalami Baby Blues
Baby blues bukan sesuatu yang harus dihadapi seorang diri.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu.
1. Terima Perasaan yang Muncul
Tidak semua perasaan harus langsung dilawan.
Menangis bukan berarti lemah. Merasa lelah bukan berarti tidak bersyukur. Membutuhkan bantuan bukan berarti tidak mampu menjadi ibu.
Memberikan ruang terhadap perasaan dapat membantu ibu memahami apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.
2. Ceritakan kepada Orang yang Dipercaya
Bunda dapat berbicara dengan pasangan, orang tua, saudara, sahabat, atau sesama ibu.
Terkadang, memiliki seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi sudah sangat membantu.
3. Prioritaskan Tidur dan Istirahat
Tidur setelah bayi tidur memang terdengar sederhana, tetapi pada praktiknya tidak selalu mudah.
Namun, jika memungkinkan, gunakan sebagian waktu bayi tidur untuk beristirahat, meskipun hanya sebentar.
4. Minta dan Terima Bantuan
Pasangan atau keluarga dapat membantu mengganti popok, menggendong bayi, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, atau mengerjakan pekerjaan rumah.
Bantuan konkret sering kali jauh lebih berarti daripada sekadar mengatakan, “Kalau butuh bantuan bilang ya.”
5. Perhatikan Asupan Nutrisi
Makan secara teratur dan mencukupi kebutuhan cairan membantu tubuh mendapatkan energi untuk menjalani masa pemulihan.
Ibu yang sedang menyusui juga membutuhkan perhatian terhadap kebutuhan cairan dan nutrisi.
6. Turunkan Standar untuk Sementara
Rumah berantakan?
Cucian menumpuk?
Makanan tidak selalu harus sempurna?
Tidak apa-apa.
Masa setelah melahirkan bukan waktunya memaksakan standar rumah tangga seperti sebelum memiliki bayi.
7. Berikan Waktu kepada Diri Sendiri
Baby blues umumnya membaik dalam 1–2 minggu.
Namun, jika gejalanya menetap, semakin berat, atau mengganggu kemampuan ibu menjalani aktivitas sehari-hari dan merawat bayi, jangan hanya menunggu.
Ibu Kelelahan Mengurus Bayi: Saat Rasa Capek Terasa Tidak Berujung
Merawat bayi baru lahir memang dapat menjadi pekerjaan yang sangat menguras energi.
Bayi mungkin menyusu setiap 2–3 jam, termasuk pada malam hari. Ibu juga harus menghadapi aktivitas menggendong, mengganti popok, menenangkan bayi, dan tidur yang terputus-putus.
Karena penyebabnya terus berulang, kelelahan dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan baby blues.
Strategi Mengurangi Kelelahan Ibu Baru
Tidur Bergiliran dengan Pasangan
Jika memungkinkan, pasangan dapat membagi waktu menjaga bayi pada malam hari.
Tujuannya bukan membuat salah satu pihak mengerjakan semuanya, tetapi memastikan ibu mendapatkan kesempatan untuk tidur tanpa terlalu sering terbangun.
Tidur Saat Bayi Tidur
Nasihat ini memang terdengar klise, tetapi mengganti sebagian waktu yang hilang dengan tidur singkat tetap dapat membantu.
Kurangi Pekerjaan yang Tidak Mendesak
Prioritas utama pada masa ini adalah kesehatan ibu dan kebutuhan bayi.
Pekerjaan rumah dapat menunggu.
Minta Bantuan Secara Spesifik
Daripada mengatakan:
“Bantu saya ya.”
Coba katakan:
“Bisa tolong masakkan makan malam?”
atau
“Bisa tolong jaga bayi selama satu jam supaya saya tidur?”
Permintaan konkret biasanya lebih mudah dipahami dan dilakukan.
Self Care Ibu Baru Bukan Kemewahan
Ketika bayi membutuhkan perhatian hampir sepanjang hari, kebutuhan ibu sering kali berada di urutan terakhir.
Padahal, merawat diri bukan berarti mengabaikan bayi.
Beberapa bentuk self-care sederhana yang realistis antara lain:
- minum air putih secara teratur;
- mandi dan membersihkan diri;
- duduk sebentar di teras;
- berjalan singkat jika kondisi tubuh memungkinkan;
- berkomunikasi dengan ibu lain;
- tidur tanpa merasa bersalah;
- menyediakan 10 menit untuk melakukan sesuatu yang membuat tubuh dan pikiran lebih tenang.
Self-care tidak harus berupa kegiatan mahal atau membutuhkan waktu berjam-jam.
Dalam kondisi setelah melahirkan, self-care yang realistis justru berupa hal kecil yang dapat dilakukan secara konsisten.
Apa Dampaknya Jika Baby Blues dan Kelelahan Dibiarkan?
Baby blues yang ringan umumnya bersifat sementara.
Namun, kondisi emosional ibu tetap perlu diperhatikan, terutama jika tidak kunjung membaik atau justru semakin berat.
Kelelahan emosional yang berkepanjangan dapat membuat ibu semakin sulit merasa terhubung dengan bayinya. Stres dan kurang istirahat juga dapat memengaruhi proses menyusui pada sebagian ibu.
Karena itu, mengenali baby blues bukan berarti menakut-nakuti ibu.
Justru sebaliknya, semakin cepat kondisi dikenali, semakin cepat pula dukungan dapat diberikan.
Baby Blues dan Kesehatan Mental Ayah Juga Perlu Diperhatikan
Setelah bayi lahir, perhatian keluarga biasanya berpusat pada ibu dan bayi.
Namun, ayah juga mengalami perubahan besar.
Berbagai penelitian internasional memperkirakan sekitar 1 dari 10 ayah mengalami gejala depresi pada periode setelah kelahiran anak. Gejalanya dapat berupa mudah marah, menarik diri, kecemasan berlebihan, serta perubahan tidur atau nafsu makan.
Karena itu, kesehatan mental setelah kelahiran bayi sebaiknya tidak dipandang sebagai “masalah ibu”.
Ini adalah bagian dari kesehatan seluruh keluarga.
Ayah yang juga mendapatkan dukungan akan lebih mampu menjadi sumber dukungan bagi ibu dan bayi.
Peran Pasangan dan Keluarga dalam Membantu Ibu
Dukungan pasangan merupakan salah satu hal penting dalam membantu ibu menghadapi masa setelah melahirkan.
Bantuan tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar.
Pasangan dapat:
- ikut bangun malam untuk mengganti popok atau menggendong bayi;
- mendengarkan cerita ibu tanpa langsung menghakimi atau memberikan solusi;
- mengambil alih pekerjaan rumah;
- memberikan waktu bagi ibu untuk tidur;
- bertanya, “Bunda butuh apa hari ini?”
Hal yang sering dilupakan adalah bahwa dukungan yang baik tidak selalu berarti memberikan nasihat.
Terkadang ibu hanya membutuhkan seseorang yang mengatakan:
“Bunda tidak harus menjalani semuanya sendirian.”
Jika dukungan yang dibutuhkan belum tersedia, tidak ada salahnya menyampaikannya secara spesifik kepada pasangan atau keluarga.
Mitos vs Fakta Seputar Baby Blues
Mitos: “Ibu yang sedih setelah melahirkan berarti kurang bersyukur.”
Fakta: Baby blues berkaitan dengan perubahan fisik, hormonal, dan emosional setelah melahirkan. Kondisi tersebut bukan ukuran rasa syukur seorang ibu.
Mitos: “Baby blues hanya alasan ibu yang manja.”
Fakta: Baby blues merupakan kondisi yang sangat umum dialami ibu setelah melahirkan. Jadi, bukan persoalan karakter atau kemanjaan.
Mitos: “Tidak perlu bercerita karena nanti juga hilang sendiri.”
Fakta: Baby blues ringan memang dapat membaik dengan sendirinya. Namun, dukungan sosial tetap penting dan dapat membantu ibu melewati masa tersebut.
Mitos: “Ibu yang kuat tidak akan mengalami baby blues.”
Fakta: Mengalami baby blues bukan berarti seseorang memiliki mental yang lemah. Perubahan setelah melahirkan dapat terjadi pada siapa saja.
Mitos: “Semua pantangan setelah melahirkan harus diikuti tanpa pengecualian.”
Fakta: Sebagian tradisi dapat membantu ibu beristirahat dan mendapatkan dukungan. Namun, pembatasan sosial yang berlebihan dapat membuat ibu merasa terisolasi. Yang penting adalah memastikan praktik tersebut tidak justru meningkatkan beban fisik maupun psikologis ibu.
Mengapa Kondisi Emosional Ibu Perlu Dipandang Serius?
Dari perspektif kesehatan mental perinatal, kondisi ibu setelah melahirkan sebaiknya tidak hanya dilihat dari kemampuan fisiknya merawat bayi.
Ibu juga sedang mengalami proses adaptasi biologis, psikologis, sosial, dan emosional yang besar.
Karena itu, ketika seorang ibu mengatakan “saya lelah”, respons yang dibutuhkan bukan sekadar “semua ibu juga capek”.
Kalimat tersebut justru dapat membuat ibu merasa tidak didengar.
Pendekatan yang lebih mendukung adalah mencari tahu:
Seberapa lelah? Sudah berapa lama? Apakah ibu masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari? Apakah ada dukungan? Apakah kondisinya membaik atau semakin berat?
Perbedaan antara baby blues, kelelahan biasa, dan depresi pascapersalinan tidak dapat ditentukan hanya dari satu gejala. Durasi, intensitas, dan dampaknya terhadap fungsi sehari-hari perlu diperhatikan.
Kesehatan ibu setelah melahirkan tidak hanya mencakup pemulihan fisik, tetapi juga kesehatan emosional, tidur, kelelahan, pengasuhan bayi, dan dukungan. (Dr. Alison Stuebe merupakan ahli obstetri-ginekologi yang banyak berkontribusi pada bidang maternal health, postpartum care, breastfeeding, dan perinatal health).
Bayi Membutuhkan Ibu yang Didukung, Bukan Ibu yang Dipaksa Selalu Kuat
Menurut pandangan kami sebagai praktisi pengasuhan anak usia dini, perhatian terhadap bayi tidak dapat dipisahkan dari perhatian terhadap orang dewasa yang merawatnya.
Bayi membutuhkan pengasuhan yang responsif, hangat, dan konsisten. Namun, pengasuhan seperti itu menjadi lebih sulit dilakukan ketika orang tua berada dalam kondisi sangat lelah, tertekan, atau merasa harus menjalani semuanya sendirian.
Karena itu, menurut kami, mendukung ibu bukan berarti memanjakan ibu.
Memberikan kesempatan kepada ibu untuk tidur, membantu pekerjaan rumah, menemani ketika ia membutuhkan teman bicara, atau mengambil alih pengasuhan bayi untuk sementara merupakan bagian dari menciptakan lingkungan pengasuhan yang sehat.
Orang tua tidak harus sempurna.
Yang jauh lebih penting adalah adanya sistem dukungan yang memungkinkan ibu dan ayah dapat terus belajar mengenali kebutuhan bayi sekaligus menjaga dirinya sendiri.
Inilah salah satu alasan mengapa lingkungan pengasuhan bayi perlu memperhatikan bukan hanya kebutuhan anak, tetapi juga komunikasi dengan orang tua.
Kapan Ibu Harus Mencari Bantuan Profesional?
Baby blues biasanya membaik dalam sekitar dua minggu.
Namun, Bunda perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan seperti bidan, dokter, psikolog, atau psikiater apabila mengalami:
- kesedihan, kecemasan, atau rasa kewalahan yang tidak membaik setelah dua minggu;
- gejala yang semakin berat;
- kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari;
- kesulitan merawat bayi;
- merasa terputus atau tidak memiliki ikatan dengan bayi;
- muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.
Mengenal EPDS untuk Skrining Depresi Pascapersalinan
Tenaga kesehatan dapat menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) sebagai salah satu alat skrining.
EPDS terdiri dari 10 pertanyaan dan digunakan untuk membantu mengidentifikasi risiko depresi setelah melahirkan.
Penting untuk dipahami bahwa EPDS bukan alat diagnosis.
Hasil skrining perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan apakah diperlukan evaluasi atau penanganan lebih lanjut.
Jika ibu memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, jangan menghadapi kondisi tersebut seorang diri. Segera cari bantuan dari tenaga kesehatan atau orang terdekat yang dapat mendampingi secara langsung.
Baca Juga: Cara Membedakan Tangisan Bayi Lapar, Mengantuk, atau Tidak Nyaman?
Bunda Tidak Harus Menjalani Masa Ini Sendirian
Baby blues dan kelelahan setelah melahirkan adalah dua kondisi yang berbeda, tetapi keduanya dapat hadir bersamaan.
Kelelahan berkaitan erat dengan beban fisik dan kurang tidur, sementara baby blues berkaitan dengan perubahan hormonal dan proses adaptasi emosional setelah melahirkan.
Yang paling penting adalah jangan menganggap semua kesulitan setelah melahirkan sebagai sesuatu yang harus ditahan sendiri.
Ibu juga perlu dirawat
Ketika Bunda membutuhkan waktu untuk tidur, meminta bantuan pasangan, menangis, bercerita, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional, itu bukan tanda bahwa Bunda gagal menjadi ibu.
Justru dengan menjaga kondisi diri, Bunda sedang berusaha menciptakan lingkungan yang lebih sehat untuk tumbuh kembang si bocah.
Bagi orang tua yang memiliki bayi usia 0–1 tahun, membangun sistem pengasuhan yang aman dan responsif juga berarti memastikan bayi mendapatkan pengasuhan yang konsisten dari orang dewasa yang kondisinya cukup baik secara fisik dan emosional.
Jika Bunda sedang mempertimbangkan dukungan pengasuhan profesional untuk si kecil, Sahabat Juara Daycare hadir dengan pendekatan pengasuhan yang memperhatikan kebutuhan bayi sekaligus komunikasi dengan orang tua.
Temukan informasi lebih lanjut mengenai layanan taman penitipan anak – TPA di Jogja berizin resmi Dinas Pendidikan untuk bayi dan anak usia dini melalui Sahabat Juara Daycare.
FAQ
Berapa lama baby blues berlangsung?
Baby blues umumnya berlangsung sekitar 1–2 minggu dan gejalanya dapat mencapai puncak pada hari ke-4 atau ke-5 setelah melahirkan.
Apakah baby blues bisa dicegah sepenuhnya?
Tidak selalu. Baby blues berkaitan dengan perubahan biologis dan hormonal setelah persalinan. Namun, dukungan sosial, tidur yang cukup, serta persiapan menghadapi masa setelah melahirkan dapat membantu ibu menghadapi perubahan tersebut.
Apa perbedaan baby blues dan depresi pascapersalinan?
Perbedaan pentingnya terletak pada durasi dan tingkat keparahan.
Baby blues biasanya lebih ringan dan membaik dalam sekitar dua minggu. Sementara depresi pascapersalinan dapat lebih berat, berlangsung lebih lama, dan membutuhkan penanganan profesional.
Apakah normal jika ibu tidak langsung merasa sangat dekat dengan bayinya?
Ikatan antara ibu dan bayi tidak selalu muncul dalam bentuk perasaan yang besar sejak hari pertama.
Kelelahan, proses pemulihan, dan baby blues dapat membuat ibu merasa belum sepenuhnya terhubung dengan bayinya.
Bonding dapat berkembang seiring waktu. Namun, jika perasaan terputus atau tidak terikat tersebut menetap dan mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Apakah kesehatan mental ayah juga perlu diperhatikan?
Ya.
Ayah juga dapat mengalami masalah kesehatan mental setelah kelahiran bayi. Karena itu, kondisi emosional ayah juga perlu diperhatikan, bukan hanya kondisi ibu.
Disclaimer: artikel bersifat edukasi dan bukan diagnosis medis. Untuk kasus dengan niat menyakiti diri/bayi atau gejala psikosis, harus konsultasi ke layanan kesehatan darurat setempat.
Referensi
Artikel sumber merujuk antara lain pada:
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) – Postpartum Depression.
- Cleveland Clinic – Postpartum Depression.
- Kementerian Kesehatan RI – Direktorat Kesehatan Lanjutan.
- Direktorat Yankes Kementerian Kesehatan RI.
- Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK-KMK UGM.
- StatPearls – NIH/NCBI – Perinatal Depression.
- Merck Manual Professional Edition – Postpartum Depression.
- O’Hara, M.W. & McCabe, J.E. (2013) – Postpartum Depression: Current Status and Future Directions.
- Sasmita, I., Santy, I., Abdullah, F., Fujiko, M., & Azis, U. (2024) – Narrative Review: Karakteristik dan Prevalensi Baby Blues Syndrome.
- Nadariah, S., Febriyana, N., Budiono, D.I. (2021) – Hubungan Karakteristik Ibu Primipara dengan Terjadinya Baby Blues.
- WebMD – Edinburgh Postnatal Depression Scale.
- Postpartum Support International – Screening Recommendations.
- Cameron, E.E., Sedov, I.D., & Tomfohr-Madsen, L.M. (2016) – Prevalence of Paternal Depression in Pregnancy and the Postpartum: An Updated Meta-analysis.
- UT Southwestern Medical Center – informasi mengenai depresi dan kecemasan pascapersalinan pada ayah.

