Lompat ke konten utama

Sahabat Juara Daycare

Gentle Parenting vs Authoritative Parenting; Mana yang Cocok untuk Anak Usia 2–3 Tahun?

Gentle Parenting vs Authoritative Parenting Mana yang Cocok untuk Anak Usia 2–3 Tahun-daycarejogjasahabatjuara

Daycare full day di Jogja – Usia 2–3 tahun merupakan fase yang penuh perubahan. Anak mulai ingin mandiri, sering mengatakan “enggak mau”, mudah frustrasi, menolak makan, sulit tidur, atau mengalami tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Pada usia ini, Ayah Bunda mungkin bertanya: lebih baik menerapkan gentle parenting atau authoritative parenting?

Keduanya sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Gentle parenting banyak menekankan empati, penghormatan dan regulasi emosi, sedangkan authoritative parenting menggabungkan kehangatan dengan aturan serta batasan yang jelas.

Yang penting, bocah tetap merasa aman dan dihargai, tetapi juga memahami bahwa ada perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Apa Itu Gentle Parenting?

Gentle parenting merupakan pendekatan yang menekankan:

  • empati terhadap perasaan anak;
  • rasa hormat kepada anak;
  • memahami alasan di balik perilaku;
  • komunikasi terbuka;
  • batasan yang jelas tanpa hukuman keras.

Contohnya, ketika anak melempar mainan karena frustrasi, orang tua tidak langsung mengatakan, “Kamu nakal!”

Orang tua dapat mengatakan:

“Kamu kesal karena mainannya tidak bisa dipasang, ya. Tapi mainan tidak boleh dilempar. Yuk, kita coba lagi.”

Artinya, perasaan anak diterima, tetapi perilakunya tetap memiliki batas.

Istilah gentle parenting sendiri bukan kategori gaya pengasuhan klasik yang memiliki definisi tunggal. Penelitian Pezalla dan Davidson menunjukkan praktik gentle parenting dapat berbeda-beda antarorang tua.

Karena itu, gentle parenting sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai “membiarkan bocah melakukan apa saja”.

Mengenal 4 Gaya Pengasuhan

Sebelum membandingkan gentle parenting dan authoritative parenting, Ayah Bunda perlu memahami empat gaya pengasuhan yang dikenal dalam psikologi perkembangan.

1. Authoritative: Hangat dan Tegas

Authoritative merupakan pola asuh yang menggabungkan kehangatan dengan ekspektasi dan batasan yang jelas.

Ciri-cirinya:

  • orang tua responsif terhadap kebutuhan anak;
  • aturan dibuat jelas;
  • anak diberi kesempatan menyampaikan pendapat;
  • orang tua menjelaskan alasan di balik aturan;
  • kemandirian didorong;
  • disiplin dilakukan tanpa harus menggunakan kekerasan.

Contohnya:

“Kamu masih ingin bermain, Ibu tahu. Tapi sekarang waktunya tidur. Kamu mau baca satu buku atau dua buku?”

Bocah memiliki pilihan, tetapi tetap berada dalam batas yang ditentukan orang tua.

2. Authoritarian: Tegas tetapi Kurang Hangat

Authoritarian lebih menekankan kepatuhan dan kontrol.

Orang tua cenderung memberikan perintah tanpa banyak menjelaskan alasan di balik aturan.

Contohnya:

“Pokoknya tidur sekarang karena Ibu bilang begitu!”

Hukuman atau ancaman juga lebih mudah digunakan untuk memastikan anak patuh.

3. Permissive: Hangat tetapi Minim Batasan

Orang tua permisif biasanya penuh kasih sayang dan memberikan kebebasan besar, tetapi memiliki sedikit aturan atau kesulitan mempertahankan batasan.

Misalnya, orang tua awalnya melarang anak makan permen sebelum makan. Namun karena anak menangis, akhirnya permen diberikan.

Jika pola ini terus berulang, bocah dapat belajar bahwa menangis atau tantrum dapat mengubah keputusan orang tua.

4. Neglectful/Uninvolved: Minim Kehangatan dan Keterlibatan

Pola ini ditandai rendahnya keterlibatan orang tua terhadap kebutuhan anak, baik secara emosional maupun dalam memberikan arahan.

Pola tersebut tidak selalu merupakan pilihan sadar. Tekanan hidup, kelelahan, masalah ekonomi, atau persoalan keluarga dapat membuat orang tua sulit terlibat secara konsisten.

Karena itu, pembahasan mengenai gaya pengasuhan sebaiknya bukan untuk menghakimi orang tua, tetapi menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan anak.

Di Mana Posisi Gentle Parenting?

Gentle parenting tidak sama dengan permissive parenting.

Gentle parenting memiliki banyak titik temu dengan prinsip authoritative ketika diterapkan dengan batasan yang sehat. Namun, istilah gentle parenting sendiri memiliki praktik yang beragam.

Cara sederhananya:

Gentle parenting menekankan bagaimana orang tua berkomunikasi dan merespons emosi anak, sedangkan authoritative parenting memberikan kerangka yang lebih jelas mengenai keseimbangan kehangatan dan struktur.

Masalah muncul jika “gentle” dipahami sebagai tidak boleh berkata tidak, tidak boleh membuat anak kecewa, atau semua keinginan anak harus dipenuhi.

Mengapa Usia 2–3 Tahun Membutuhkan Pendekatan Khusus?

Usia 2–3 tahun merupakan masa ketika anak semakin menyadari dirinya sebagai individu.

Bocah mulai ingin memilih pakaian, makan sendiri, memilih mainan, melakukan sesuatu tanpa bantuan, dan mengatakan “aku mau” atau “enggak mau”.

Namun, kemampuan regulasi emosi masih berkembang.

Akibatnya, keinginan yang besar dapat bertemu kemampuan mengendalikan diri yang masih terbatas. Tantrum, menangis, berteriak, memukul, menggigit atau menolak aktivitas dapat muncul.

Tantrum bukan otomatis berarti anak nakal. Sering kali anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memahami dan mengatur emosinya.

Gentle dan Tegas: Cara Menghadapi Situasi Sehari-hari

Saat Anak Tantrum di Tempat Umum

Tenangkan diri terlebih dahulu. Kemudian validasi perasaan tanpa langsung memenuhi keinginannya.

“Ibu tahu kamu kesal karena ingin mainan itu. Tapi hari ini kita tidak membelinya.”

Perasaan boleh muncul, tetapi batasan tetap ada.

Saat Anak Menolak Tidur

“Kamu masih ingin bermain, ya. Ibu tahu. Tapi sekarang waktunya tidur. Mau baca satu buku atau dua buku?”

Anak mendapat pilihan, tetapi keputusan utama tetap berada pada orang tua.

Saat Anak Susah Makan

Berikan pilihan terbatas.

“Mau wortel atau bayam?”

Bukan memberikan pilihan “mau makan atau tidak”, karena struktur waktu makan tetap perlu dijaga.

Saat Anak Memukul atau Menggigit

Hentikan perilaku dengan tenang.

“Tidak boleh memukul. Itu menyakiti.”

Setelah lebih tenang:

“Kamu marah karena mainannya diambil? Kalau marah, bilang ‘stop’ atau panggil Ibu.”

Anak tidak hanya perlu tahu apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga perilaku penggantinya.

Tantangan Keluarga Indonesia: Beda Pola Asuh dengan Kakek-Nenek

Kakek dan nenek sering memiliki peran penting dalam pengasuhan. Namun, perbedaan aturan dapat membingungkan anak.

Misalnya, Ayah Bunda melarang memukul tetapi anggota keluarga lain menganggapnya biasa. Atau orang tua membatasi permen, tetapi nenek selalu memberikannya ketika bocah menangis.

Agar lebih konsisten:

  • Sepakati aturan utama bersama pasangan.
  • Hargai pengalaman kakek-nenek tanpa menggurui.
  • Berikan informasi parenting secara perlahan dan dengan bahasa netral.

Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, tetapi memberikan pesan yang lebih konsisten kepada bocah.

Ketika Bocah Membawa Pola Asuh Berbasis Hukuman ke Daycare

Ketika Bocah Membawa Pola Asuh Berbasis Hukuman ke Daycare-daycarejogja-sahabatjuara

Di daycare, terkadang pengasuh menghadapi anak yang menunjukkan perilaku seperti memukul, mencakar atau meludah. Bocah tidak sebaiknya langsung diberi label “nakal”. Perilaku dapat dipelajari melalui pengalaman dan lingkungan.

Jika seorang bocah terbiasa melihat kekerasan atau hukuman sebagai cara menyelesaikan konflik, ia membutuhkan waktu untuk belajar cara yang berbeda.

Penelitian yang dirujuk dalam artikel sumber juga menunjukkan hubungan antara hukuman fisik dengan peningkatan perilaku agresif anak.

Kerangka Penanganan di Daycare

  1. Jangan membalas dengan kekerasan.
        Anak yang memukul tidak perlu dipukul balik.
  2. Tegakkan batasan dengan tenang.
        “Tidak boleh mencakar. Itu menyakiti teman.”
  3. Ajarkan perilaku pengganti.
        Bantu anak mengatakan “stop”, meminta bantuan caregiver, atau mengungkapkan perasaan.
  4. Berikan waktu.
         Perilaku yang sudah terbentuk tidak selalu berubah dalam beberapa hari.
  5. Dokumentasikan perkembangan.
         Catat pemicu, frekuensi dan situasi terjadinya perilaku.
  6. Tetap lindungi anak lain.
         Pengawasan perlu diperketat pada situasi rawan tanpa mengucilkan anak yang sedang belajar mengubah        perilakunya.

Bagaimana Menghadapi Orang Tua yang Defensif?

Ketika daycare melaporkan perilaku agresif, orang tua mungkin mengatakan:

“Di rumah tidak begitu.”

atau:

“Daycare terlalu lembut.”

Daripada melakukan konfrontasi, daycare dapat mengubah percakapan menjadi kolaborasi.

Contohnya:

“Kami ingin membantu [nama anak] belajar mengelola frustrasinya. Agar prosesnya lebih konsisten, kami ingin menyamakan beberapa respons antara rumah dan daycare.”

Fokusnya bukan mencari siapa yang salah, tetapi mencari cara agar lingkungan pengasuhan memberikan pesan yang selaras.

Daycare Lembut Bukan Berarti Tanpa Aturan

Pendekatan gentle atau authoritative tetap membutuhkan aturan.

Misalnya:

  • tidak memukul;
  • tidak menggigit;
  • tidak mencakar;
  • tidak mengambil paksa mainan;
  • membereskan mainan;
  • mengikuti rutinitas;
  • meminta bantuan ketika kesulitan.

Perbedaannya adalah cara aturan ditegakkan.

Batasan dapat tegas tanpa penghinaan, ancaman atau kekerasan.

Apa yang Perlu Diubah Ayah Bunda di Rumah?

1. Ganti Hukuman dengan Konsekuensi Logis

Jika anak menumpahkan air, ajak ia membantu membersihkannya.

2. Kurangi Ancaman

Anak sebaiknya belajar memahami alasan aturan, bukan hanya patuh karena takut.

3. Validasi Perasaan Sebelum Menegakkan Batasan

“Kamu kecewa karena tidak boleh membeli mainan. Ibu tahu. Tapi hari ini kita tidak membeli mainan.”

4. Konsisten

Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak bingung.

5. Jadilah Contoh Regulasi Emosi

Ketika orang tua mampu menenangkan diri saat marah, anak memperoleh contoh nyata bagaimana emosi dapat dikelola.

Membangun Kesadaran Orang Tua Secara Bertahap

Daycare dapat membantu keluarga dengan:

  • menggunakan data perilaku, bukan opini;
  • menghindari label terhadap anak;
  • melibatkan psikolog anak jika diperlukan;
  • membuat periode evaluasi, misalnya 4–6 minggu;
  • menyampaikan konsekuensi secara jujur tanpa mengancam.
  • Jika orang tua tetap tidak kooperatif, daycare tetap perlu:
  • meningkatkan pengawasan;
  • mendokumentasikan kejadian dan komunikasi;
  • menjaga anak lain tetap aman;
  • mempertimbangkan rujukan kepada psikolog anak atau profesional terkait.

Opini Ahli tentang Gentle Parenting dan Batasan

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menjelaskan gentle parenting melalui empati, rasa hormat, pemahaman dan batasan yang jelas.

Sementara itu, pendekatan disiplin positif yang direkomendasikan American Academy of Pediatrics juga menekankan penguatan perilaku positif, aturan yang jelas, pengarahan perilaku dan penghindaran hukuman fisik maupun penghinaan.

Artinya, kelembutan tidak berarti menghilangkan batasan.

Anak membutuhkan hubungan yang hangat sekaligus struktur yang dapat diprediksi.

Opini Pribadi dari Perspektif Daycare

Menurut saya, Ayah Bunda tidak perlu terlalu sibuk memilih label “gentle” atau “authoritative”.

Yang lebih penting adalah melihat praktik sehari-hari.

Apakah anak merasa aman menyampaikan emosi? Apakah ia tetap mengetahui batasan? Apakah aturan cukup konsisten? Apakah orang dewasa di sekitarnya memberikan contoh regulasi emosi?

Bocah tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Ia membutuhkan orang dewasa yang mau belajar, memperbaiki kesalahan, memberikan batasan, dan tetap menjaga hubungan yang hangat.

Di daycare pun prinsipnya sama: tidak perlu membuat anak takut agar belajar patuh, tetapi juga tidak cukup hanya memvalidasi perasaan tanpa mengajarkan batasan.

FAQ Gentle Parenting untuk Anak 2–3 Tahun

Apakah gentle parenting membuat anak manja?

Tidak otomatis. Anak dapat tetap memiliki batasan dan tanggung jawab. Masalah muncul jika validasi digunakan untuk menghilangkan semua aturan sehingga pendekatannya berubah menjadi permisif.

Apakah authoritative parenting berarti keras?

Tidak. Authoritative berbeda dengan authoritarian. Authoritative menggabungkan kehangatan, komunikasi dan batasan.

Apakah authoritative cocok untuk keluarga Indonesia?

Prinsipnya dapat disesuaikan dengan nilai keluarga dan budaya Indonesia, termasuk tetap mengajarkan sopan santun dan menghormati orang yang lebih tua.

Kapan tantrum perlu dikonsultasikan?

Konsultasikan kepada dokter anak atau psikolog apabila tantrum sangat sering atau intens, berlangsung lama, melibatkan perilaku yang membahayakan, sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai kekhawatiran perkembangan lainnya.

Bagaimana jika Ayah dan Bunda berbeda gaya pengasuhan?

Sepakati aturan dasar terlebih dahulu, seperti tidak menggunakan kekerasan, konsisten terhadap batasan, dan tidak membiarkan tantrum otomatis mengubah aturan. Setelah itu, selaraskan dengan caregiver lain.

Baca Juga: Cara Bicara dengan Anak 2-3 Tahun Agar Mau Mendengarkan

Kesimpulan

Gentle parenting dan authoritative parenting tidak harus menjadi dua pilihan yang bertentangan. Gentle parenting menekankan empati, rasa hormat dan regulasi emosi, sedangkan authoritative parenting memberikan kerangka yang lebih jelas mengenai kehangatan, struktur dan batasan.

Untuk anak usia 2–3 tahun, keduanya dapat diterapkan dengan prinsip sederhana: lembut terhadap emosi, tegas terhadap batasan.

Ketika anak tantrum, menolak makan, sulit tidur atau memukul, Ayah Bunda dapat mengakui perasaannya tanpa membenarkan perilaku yang menyakiti.

Konsistensi juga penting, termasuk antara rumah, kakek-nenek dan daycare. Lingkungan pengasuhan yang selaras membantu bocah memahami aturan sekaligus merasa aman.

Karena itu, ketika memilih daycare program edukatif di Yogyakarta, Ayah Bunda tidak hanya perlu melihat bagaimana anak dijaga, tetapi juga bagaimana lingkungan daycare mendampingi perkembangan emosi, kemandirian, perilaku dan hubungan sosialnya.

Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak patuh, tetapi membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu memahami emosi, menghargai batasan, menyelesaikan masalah dan berinteraksi dengan orang lain secara sehat. Ayah-Bunda yang ingin mencari informasi kelas coba gratis daycare usia 2-4 tahun bisa hubungi kontak kami.

Sumber referensi

  • What ‘gentle parenting’ does for your kidsUlasan riset 2024 Pezalla & Davidson tentang makna gentle parenting bagi orang tua.CNN Health
  • Gentle Parenting Doesn’t Mean Permissive ParentingGentle parenting adalah bentuk authoritative parenting, bukan gaya permisif.Psychology Today
  • Diana BaumrindProfil riset pencetus kerangka gaya pengasuhan authoritative, authoritarian, permissive.Wikipedia
  • Mengenal Gentle Parenting, Pola Asuh yang Kuatkan Orangtua dan AnakEmpat komponen gentle parenting: empati, rasa hormat, pemahaman, batasan jelas.Fakultas Psikologi UI
  • Tenang Bunda, Ini Tips Menangani Tantrum pada BalitaPanduan praktis menangani tantrum toddler dari sisi medis.Alodokter
  • Psikoedukasi DIHATIMU: Dialog dari Hati untuk Menangani Tantrum Anak Usia DiniStudi UGM tentang penyebab tantrum dan pengaruh pola asuh.Jurnal Procedia UGM

Anda mungkin juga suka...