Daycare di Jogja dekat Bangunjiwo – “Sudah dipanggil berkali-kali, kok tidak mau dengar?”
“Kalau di daycare nurut, kenapa di rumah susah sekali diajak kerja sama?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering muncul ketika bocah memasuki usia 2-3 tahun. Bocah mulai memiliki keinginan sendiri, semakin aktif mengeksplorasi lingkungan, tetapi kemampuan bahasa dan kontrol emosinya masih berkembang.
Karena itu, anak yang terlihat tidak mau mendengarkan belum tentu sedang “nakal”. Bisa jadi instruksinya terlalu panjang, anak sedang fokus bermain, terlalu banyak distraksi, belum mampu mengendalikan impuls, atau memang sedang belajar menguji batas dan kemandiriannya.
Menurut Dr. Alyssa Fritz dari Johns Hopkins All Children’s Institute for Brain Protection Sciences, anak usia 2-3 tahun umumnya lebih mampu mengikuti satu instruksi dalam satu waktu dan kemampuan tersebut berkembang secara bertahap seiring usia.
Jadi, bagaimana cara bicara dengan bocah 2-3 tahun agar lebih mudah mendengarkan tanpa harus terus berteriak?
Kenapa Anak 2–3 Tahun Sering Tidak Mau Dengar?
Pada usia ini, bocah sedang belajar menjadi lebih mandiri. Ia mulai memiliki keinginan sendiri dan ingin merasa mempunyai kendali terhadap apa yang dilakukan.
Beberapa penyebab bocah terlihat tidak mau mendengar antara lain:
- kemampuan kontrol diri dan mengendalikan impuls masih berkembang;
- kemampuan bahasa belum seperti orang dewasa;
- rentang perhatian masih terbatas;
- anak sedang sangat fokus pada permainan;
- anak sedang menguji batas dan belajar tentang kemandirian.
Karena itu, memberikan lima instruksi sekaligus seperti:
“Ambil sepatu, pakai, ambil tas, lalu masuk mobil!”
bisa terlalu banyak untuk diproses.
Lebih efektif jika instruksi dipecah menjadi satu langkah:
“Ayo ambil sepatunya.”
Setelah selesai, baru lanjut:
“Sekarang pakai sepatunya.”
Jadi, sebelum mengatakan anak tidak mau mendengar, coba tanyakan: apakah pesan yang kita berikan sudah sesuai dengan kemampuan anak?
Prinsip Dasar Cara Bicara dengan Anak 2–3 Tahun
1. Turun ke level mata anak
Jangan selalu memberikan instruksi dari jauh.
Dekati anak, berjongkok atau duduk sejajar, lalu pastikan perhatian anak tertuju kepada Ayah Bunda.
2. Berikan satu instruksi dalam satu waktu
Gunakan kalimat sederhana dan singkat.
Daripada:
“Ayo cepat mandi, ambil baju, taruh mainan, terus masuk kamar mandi.”
lebih baik:
“Sekarang waktunya mandi.”
Setelah anak merespons, lanjutkan instruksi berikutnya.
3. Gunakan kalimat positif
Daripada:
“Jangan lari!”
coba:
“Jalan pelan-pelan.”
Daripada:
“Jangan lempar mainan!”
coba:
“Mainannya kita taruh di lantai.”
4. Sebut nama anak
Misalnya:
“Kak, lihat Ibu.”
Setelah anak memperhatikan:
“Sekarang kita pakai sepatu.”
5. Validasi perasaan sebelum meminta kerja sama
Misalnya anak tidak mau berhenti bermain:
“Kamu masih mau main, ya. Seru sekali.”
Kemudian:
“Sekarang waktunya mandi. Mau pilih mobil-mobilan atau boneka yang ikut ke kamar mandi?”
Validasi bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti. Validasi membantu anak merasa dipahami sebelum diarahkan.
Contoh Kalimat yang Lebih Efektif
| Situasi | Hindari | Coba |
| Berhenti bermain | “Ayo berhenti main!” | “Lima menit lagi kita beres-beres, ya.” |
| Tidak mau memakai sepatu | “Cepat pakai!” | “Mau sepatu merah atau biru?” |
| Memukul saudara | “Jangan mukul!” | “Tangan untuk sayang, bukan memukul.” |
| Tantrum | “Diam, jangan nangis!” | “Kamu kecewa karena belum boleh main lagi.” |
| Waktunya mandi | “Ayo mandi sekarang!” | “Mau bawa mainan yang mana ke kamar mandi?” |
Pola sederhananya adalah berikan pilihan terbatas, gunakan arahan positif, validasi emosi, dan manfaatkan unsur bermain.
Pengaruh Gadget dan Screen Time
Kebiasaan menggunakan gadget juga perlu diperhatikan ketika bocah terlihat sulit mendengarkan. Masalahnya bukan hanya jumlah waktu di depan layar, tetapi juga interaksi yang mungkin tergantikan oleh layar.
Anak membutuhkan banyak kesempatan untuk:
- berbicara dengan orang dewasa;
- bermain bersama;
- membaca buku;
- bermain peran;
- bergerak;
- mendengarkan cerita;
- dan merespons komunikasi dua arah.
Karena itu, Batasi screen time sesuai rekomendasi. Atau no screen time lebih baik seperti halnya program di daycare Sahabat Juara. Ganti waktu layar dengan aktivitas interaktif. Misalnya membaca buku bersama, bermain balok, bermain pura-pura, bernyanyi, atau melakukan pekerjaan sederhana bersama Ayah Bunda.
Bagaimana Cara Bicara Saat Anak Tantrum?
Ketika bocah sedang mengalami tantrum yang intens, kemampuan untuk menerima penjelasan panjang biasanya sedang tidak optimal.
Karena itu, jangan buru-buru memberikan ceramah.
Gunakan urutan:
Tenangkan → hadir → validasi → tunggu → ajarkan.
1. Tenangkan diri sendiri
Jangan ikut berteriak.
2. Hadir di dekat anak
Pastikan anak aman dan Ayah Bunda tetap hadir.
3. Beri nama perasaannya
“Kamu marah karena mainannya diambil, ya.”
4. Tunggu
Biarkan intensitas emosi menurun.
5. Ajarkan setelah anak tenang
Baru kemudian jelaskan:
“Kalau marah, kita boleh bilang ‘aku masih mau main’. Tangan tidak untuk memukul.”
Tantrum bukan waktu terbaik untuk mengajarkan banyak hal. Setelah anak tenang, barulah proses belajar dapat dilakukan.
Bagaimana Berkomunikasi dengan Bocah yang Bicaranya Masih Terbatas?
Jika anak usia 2-3 tahun belum banyak bicara, Ayah Bunda tetap dapat membangun komunikasi.
Cobalah:
gunakan kalimat pendek 2–4 kata;
sertai kata dengan gestur;
tunjuk benda yang dimaksud;
berikan waktu lebih lama untuk anak merespons;
tetap ajak anak berbicara meskipun jawabannya belum berupa kata.
Contohnya:
“Ambil bola.”
sambil menunjuk bola.
Namun, kemampuan bahasa tetap perlu dipantau. Jika Ayah Bunda memiliki kekhawatiran mengenai kemampuan bicara, pemahaman bahasa, atau respons sosial anak, konsultasikan dengan ahli tumbuh kembang terkait untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Mengapa Anak Lebih Nurut kepada Ibu, Pengasuh, atau Guru Daycare?
“Di daycare nurut, tetapi di rumah kok susah?”
Hal ini bisa terjadi dan tidak otomatis berarti bocah lebih menyayangi pengasuh atau guru.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah konsistensi aturan.
Di satu lingkungan mungkin aturan diterapkan dengan cara yang sama setiap hari. Sementara di rumah, aturan terkadang berubah tergantung kondisi Ayah Bunda.
Misalnya:
Hari ini mainan harus dibereskan.
Besok karena anak menangis, dibiarkan.
Lusa diminta dibereskan lagi.
bocah akhirnya belajar bahwa aturan tersebut masih dapat dinegosiasikan.
Karena itu, usahakan:
- Ayah dan Bunda menyepakati aturan dasar;
- pengasuh dan caregiver lain mengetahui aturan penting;
- aturan keselamatan dan rutinitas dibuat konsisten;
- jangan langsung membatalkan batas hanya karena anak menangis.
Menghadapi Tantrum di Tempat Umum
Tantrum di tempat umum sering membuat orang tua merasa malu atau khawatir dinilai orang lain. Namun, fokus utama tetap pada kebutuhan dan keamanan anak. Jika memungkinkan:
- pindahkan anak ke tempat yang lebih tenang;
- kurangi rangsangan di sekitarnya;
- tetap tenang;
- jangan memberikan sesuatu hanya karena malu terhadap orang lain.
Misalnya:
“Kamu kecewa karena tidak jadi beli mainan. Ibu tahu kamu ingin. Tapi hari ini kita tidak membeli mainan. Ibu tetap di sini menemani.”
Empati dan batas dapat diberikan bersamaan.
Kalimat yang Sebaiknya Dihindari
Beberapa pola komunikasi justru dapat membuat hubungan dengan bocah semakin sulit.
1. Jangan terus mengulang instruksi dengan suara semakin keras
Jika bocah terbiasa bahwa instruksi baru benar-benar harus dilakukan setelah Ayah Bunda berteriak, ia dapat belajar mengabaikan instruksi pertama.
2. Jangan memberikan pertanyaan palsu
Jika mandi memang harus dilakukan, jangan:
“Mau mandi nggak?”
Lebih baik:
“Sekarang waktunya mandi. Mau bawa bebek atau kapal?”
3. Hindari label
Jangan:
“Kamu anak nakal.”
Koreksi perilakunya:
“Memukul tidak boleh.”
4. Hindari perbandingan
“Lihat temanmu, dia saja mau nurut.”
Anak perlu belajar tanpa harus merasa dirinya lebih buruk dibandingkan anak lain.
5. Jangan membuat ancaman kosong
Konsekuensi yang tidak pernah benar-benar dilakukan akan kehilangan makna.
Tips agar Anak Lebih Mudah Mendengarkan
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu:
- beri peringatan sebelum berganti aktivitas;
- gunakan rutinitas harian yang konsisten;
- turunkan volume suara daripada terus berteriak;
- beri jeda setelah memberikan instruksi;
- puji ketika anak berusaha mendengarkan;
- jauhkan gadget dan distraksi sebelum membicarakan sesuatu yang penting.
Contoh peringatan:
“Lima menit lagi selesai bermain, ya.”
Kemudian:
“Dua menit lagi kita beres-beres.”
Lalu:
“Sekarang waktunya beres-beres.”
Transisi seperti ini sering lebih mudah diterima daripada menghentikan aktivitas secara tiba-tiba.
Kapan Anak Perlu Dikonsultasikan?
Tidak semua bocah yang sulit mendengarkan membutuhkan pemeriksaan. Namun Ayah Bunda perlu lebih memperhatikan jika kesulitan tersebut disertai:
- kemampuan bahasa yang sangat terbatas;
- tidak merespons nama secara konsisten;
- kesulitan memahami instruksi sederhana;
- kekhawatiran terhadap interaksi sosial;
- atau adanya kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki tetapi kemudian menghilang.
Sebagai contoh, CDC mencatat bahwa pada usia 2 tahun sebagian besar bocah sudah dapat menggabungkan setidaknya dua kata, sedangkan pada usia 3 tahun sebagian besar anak sudah dapat melakukan percakapan dengan beberapa pertukaran komunikasi.
Jika ada kekhawatiran terhadap perkembangan anak, jangan hanya menunggu. Konsultasikan dengan dokter anak, dokter tumbuh kembang, psikolog anak, atau terapis wicara sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Speech Delay pada Anak 2-3 Tahun, Tanda, Penyebab, & Cara Menangani
FAQ Cara Berkomunikasi dengan Anak 2–3 Tahun
Apakah wajar anak usia 2–3 tahun tidak mau mendengarkan?
Bisa wajar, terutama jika bocah sedang bermain, lelah, emosional, atau sedang menguji kemandirian. Namun perhatikan keseluruhan perkembangan anak.
Mengapa anak nurut di daycare tetapi tidak di rumah?
Salah satu penyebab yang mungkin adalah perbedaan konsistensi aturan dan respons orang dewasa. Bocah dapat belajar bahwa aturan di satu lingkungan lebih konsisten dibandingkan lingkungan lainnya.
Berapa lama screen time anak usia 2–3 tahun?
WHO merekomendasikan screen time sedentari maksimal satu jam sehari untuk anak usia 2 tahun dan 3–4 tahun, dengan prinsip semakin sedikit semakin baik. Namun di Sahabat Juara Daycare menerapkan program no screen time, karena bagi kami saat bocah dibiarkan screen time, dan orang dewasa tidak mengajak interaksi pada saat bersamaan (orang dewasa sibuk dengan aktivitas lain), dan kualitas tontonan yang banyak tersaji di Indonesia, ada resiko untuk tumbuh kembang si anak.
Apakah anak harus dibiarkan menangis saat tantrum?
Bocah dapat diberi ruang untuk menenangkan diri, tetapi tetap perlu dipastikan aman dan tetap mendapatkan kehadiran emosional dari orang dewasa.
Apakah anak yang tidak mau menurut berarti nakal?
Tidak. Perilaku perlu dilihat berdasarkan usia, kemampuan perkembangan, kondisi emosi, lingkungan, dan cara orang dewasa memberikan instruksi.
Opini Kami, Bocah Tidak Hanya Perlu Diajar untuk Menurut
Dalam mendampingi bocah usia dini, tujuan komunikasi sebaiknya tidak berhenti pada membuat anak “menurut”.
Anak usia 2-3 tahun sedang belajar banyak hal sekaligus: mengelola emosi, memahami aturan, mengembangkan bahasa, melakukan sesuatu secara mandiri, menunggu, bergantian, dan bekerja sama.
Karena itu, ketika anak berkata “tidak”, Ayah Bunda dapat mencoba melihat lebih jauh:
Apa yang sedang anak komunikasikan melalui perilakunya?
Mungkin ia lelah, terlalu fokus bermain, belum memahami instruksi, kesulitan mengelola kecewa, atau sedang belajar menguji batas.
Anak tetap membutuhkan batas yang jelas. Namun batas tersebut tidak harus disampaikan dengan bentakan.
Lembut bukan berarti membiarkan semuanya. Tegas juga tidak harus keras.
Kesimpulan
Mengajarkan anak usia 2-3 tahun untuk mendengarkan membutuhkan proses dan pengulangan. Ayah Bunda tidak harus selalu menaikkan suara agar anak mengikuti arahan.
Mulailah dengan hal sederhana: dekati anak, sejajarkan posisi mata, sebut namanya, berikan satu instruksi dalam satu waktu, gunakan kalimat positif, validasi perasaannya, kurangi distraksi, dan konsisten dengan aturan.
Ketika tantrum terjadi, bantu anak tenang terlebih dahulu sebelum mengajarkan sesuatu. Ketika anak belum banyak bicara, sesuaikan bahasa dengan kemampuannya dan tetap berikan kesempatan berkomunikasi.
Dan yang tidak kalah penting, ingat bahwa anak yang sedang belajar mendengarkan juga membutuhkan orang dewasa yang mau mendengarkan dirinya.
Pendekatan seperti ini juga penting diterapkan dalam lingkungan pengasuhan, termasuk daycare di Jogja dekat Jalan Parangtritis, karena pendampingan anak usia dini bukan sekadar menjaga anak tetap aman, tetapi membantu mereka belajar berkomunikasi, mengelola emosi, mandiri, dan membangun kemampuan bekerja sama secara bertahap.
Sumber Rujukan
- Johns Hopkins Medicine — How to Get a Toddler to Listen, dengan Dr. Alyssa Fritz, Ph.D., pediatric psychologist, Johns Hopkins All Children’s Institute for Brain Protection Sciences.
- World Health Organization (WHO) — Guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age.
- CDC — Milestones by 2 Years. (CDC)
- CDC — Milestones by 3 Years.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI — Permendikbud No. 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, termasuk pengelompokan usia 2–3 tahun dan aspek perkembangan anak.
- Faber, Joanna & King, Julie — How to Talk So Little Kids Will Listen: A Survival Guide to Life with Children Ages 2–7.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) — materi edukasi terkait penggunaan media digital dan screen time anak.
disclaimer: informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan atau skrining perkembangan oleh tenaga profesional.

