Lompat ke konten utama

Sahabat Juara Daycare

Penyebab dan Cara Menghadapi Terrible Twos pada Anak Usia 2–4 Tahun

Penyebab dan Cara Menghadapi Terrible Twos pada Anak Usia 2–4 Tahun-daycarejogjanpsn-sahabatjuara

Rekomendasi daycare Jogja NPSN – “Kenapa anak saya sekarang hampir selalu bilang tidak?”

“Dulu mudah diajak, sekarang sedikit-sedikit tantrum.”

“Kalau keinginannya tidak dituruti, kok sampai berteriak, memukul, atau menggigit?”

Jika ayah bunda memiliki anak usia 2–4 tahun dan sedang menghadapi perilaku seperti ini, mungkin si bocah sedang berada dalam fase yang populer disebut terrible twos.

Meski namanya terdengar negatif, terrible twos bukan berarti anak menjadi nakal atau orang tua gagal mendidik. Fase ini berkaitan dengan proses anak membangun kemandirian, kemampuan berkomunikasi, mengenali emosi, dan memahami batasan.

Bocah mulai mempunyai keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu sendiri. Namun, kemampuan bahasa, kontrol impuls, dan regulasi emosinya masih berkembang. Akibatnya, keinginan yang besar terkadang berakhir dengan tantrum ketika anak merasa kecewa atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

Lalu, bagaimana sebaiknya ayah bunda menghadapi fase ini?

Apa Itu Terrible Twos?

Terrible twos adalah istilah populer untuk menggambarkan fase ketika anak mulai sering menunjukkan perilaku menantang, seperti mengatakan “tidak”, menolak arahan, tantrum, ingin melakukan segala sesuatu sendiri, dan mudah frustrasi.

Fase ini umumnya terlihat sekitar usia 2 tahun, tetapi dapat mulai sejak sekitar 18 bulan dan pada sebagian anak masih muncul hingga usia 3–4 tahun.

Sebenarnya, perilaku tersebut merupakan bagian dari proses anak menyadari:

“Aku adalah diriku sendiri dan aku bisa melakukan sesuatu.”

Anak mulai ingin memilih makanan, pakaian, mainan, atau aktivitasnya sendiri. Dorongan untuk mandiri ini merupakan bagian penting dari perkembangan.

Jadi, ketika bocah mengatakan “tidak” atau ingin melakukan sesuatu sendiri, orang tua tidak selalu perlu melihatnya sebagai bentuk perlawanan. Bisa jadi anak sedang belajar tentang otonomi dan kemandirian.

Terrible Twos Mulai dan Berakhir di Usia Berapa?

Terrible twos tidak selalu dimulai tepat ketika bocah berulang tahun ke-2.

Umumnya dapat terjadi pada:

  • sekitar 18 bulanmulai terlihat;
  • usia 2 tahundapat menjadi periode yang cukup menantang;
  • perilaku tertentu masih dapat muncul hingga usia 3–4 tahun;
  • intensitas tantrum biasanya perlahan menurun seiring berkembangnya kemampuan bahasa dan regulasi emosi.

Tidak semua anak mengalami fase ini dengan intensitas yang sama. Temperamen, karakteristik anak, lingkungan, pengalaman, dan pola pengasuhan dapat memengaruhinya.

Karena itu, jangan buru-buru membandingkan anak dengan teman seusianya.

Mengapa Terrible Twos Terjadi?

Ada beberapa hal yang membantu menjelaskan mengapa anak usia 2–4 tahun lebih mudah tantrum atau menolak arahan.

1. Anak Sedang Membangun Kemandirian

Dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson, sekitar usia 18 bulan–3 tahun anak berada pada tahap Autonomy vs. Shame and Doubt.

Anak mulai merasakan:

“Aku bisa melakukannya sendiri.”

Misalnya ingin memakai sepatu, makan sendiri, mengambil mainan, atau memilih pakaian.

Jika diberi kesempatan mencoba dan didukung secara positif, anak dapat membangun rasa percaya diri. Sebaliknya, terlalu banyak kontrol atau kritik dapat membuat anak ragu terhadap kemampuannya sendiri.

2. Regulasi Emosi Masih Berkembang

Anak usia 2 tahun belum mempunyai kemampuan mengatur emosi seperti orang dewasa.

Anak mungkin sudah tahu bahwa “memukul tidak boleh”, tetapi ketika sedang sangat marah atau frustrasi, ia belum tentu mampu mengendalikan impulsnya.

Karena itu, mengetahui aturan dan mampu menjalankan aturan merupakan dua hal yang berbeda.

Anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk belajar mengenali, memberi nama, dan mengelola emosinya.

3. Keinginan Lebih Besar daripada Kemampuan

Anak mungkin sudah tahu apa yang diinginkan, tetapi belum mempunyai kemampuan bahasa, motorik, atau kognitif yang cukup untuk mewujudkannya.

Contohnya:

“Aku mau buka sendiri!”

Tetapi kotaknya tidak bisa dibuka.

Frustrasi pun muncul.

Kondisi seperti lapar, lelah, bosan, atau terlalu banyak stimulasi juga dapat membuat anak semakin mudah kehilangan kendali.

Ciri-Ciri Terrible Twos pada Anak

Beberapa perilaku yang sering muncul antara lain:

  • sering mengatakan “tidak”;
  • menolak permintaan sederhana;
  • tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi;
  • menangis atau berteriak;
  • ingin melakukan semuanya sendiri;
  • mudah frustrasi ketika gagal;
  • perubahan mood yang cepat;
  • sulit memahami sudut pandang orang lain;
  • menguji batasan;
  • melempar barang;
  • memukul, menggigit, atau mendorong.

Tidak semua anak akan menunjukkan semua perilaku tersebut.

Yang penting, perilaku perlu dipahami sesuai tahap perkembangan anak, bukan langsung diberi label “nakal”.

Kenapa Anak Usia 2 Tahun Jadi Susah Diatur?

Sering kali masalahnya bukan karena bocah sengaja ingin melawan.

Ada konflik antara:

“Aku ingin melakukan ini.”

dan

“Aku belum mampu mengendalikan diri atau melakukan ini dengan baik.”

Ketika bocah berteriak “tidak mau!”, menolak berpakaian, atau menangis karena mainannya diambil, perilaku tersebut dapat menjadi cara anak menyampaikan keinginan dan frustrasinya.

Setiap bocah juga mempunyai temperamen berbeda. Ada yang mudah beradaptasi, ada yang lebih sensitif, dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Kenapa Anak Suka Memukul dan Menggigit?

Memukul, menggigit, dan mendorong sering membuat orang tua khawatir. Pada usia dini, perilaku tersebut dapat muncul karena kemampuan bahasa dan regulasi emosi anak masih berkembang.

Beberapa penyebabnya antara lain:

  • frustrasi karena sulit menyampaikan perasaan;
  • mempertahankan mainan atau ruang pribadi;
  • mencari perhatian;
  • meniru perilaku yang dilihat di lingkungan atau media.

Bagaimana mengatasinya?

  1. Tetap tenang.
    Jangan membalas dengan teriakan atau kekerasan.
  2. Berikan batasan yang jelas.
    Misalnya:

“Kamu marah karena mainannya diambil. Bunda tahu kamu marah. Tapi memukul tidak boleh.”

  1. Ajarkan alternatif.
    Bantu anak mengatakan “aku tidak suka”, meminta bantuan, meminta giliran, atau menggunakan cara aman untuk menyalurkan emosi.
  2. Jangan memukul balik.
    Hukuman fisik justru dapat mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara menyelesaikan masalah.

Jika perilaku semakin berat atau menyebabkan cedera, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau profesional perkembangan anak.

Cara Mengatasi Tantrum Anak di Tempat Umum

Tantrum di rumah saja melelahkan. Ketika terjadi di supermarket, mal, atau acara keluarga, tekanan orang tua bisa semakin besar.

Sebelum keluar rumah

  • pastikan bocahtidak terlalu lapar atau mengantuk;
  • bawa camilansehat dan alami rendah gula dan bukan ultra proses;
  • bawa benda yang membuat anak nyaman;
  • jelaskan secara sederhana kegiatan yang akan dilakukan;
  • hindari waktu ketika anak biasanya sangat lelah.

Saat tantrum terjadi

  • Tetap tenang,
  • jika memungkinkan, pindahkan anak ke tempat yang lebih tenang. Kurangi stimulasi dan pastikan anak tetap aman.
  • Jangan terlalu memikirkan tatapan orang lain.
  • Yang juga penting, jangan mengubah aturan hanya karena anak tantrum di tempat umum. Jika setiap tantrum menghasilkan apa yang anak inginkan, anak dapat belajar bahwa tantrum merupakan strategi yang efektif.

7 Cara Menghadapi Terrible Twos dengan Positif

7 Cara Menghadapi Terrible Twos dengan Positif-rekomendasidaycarenpsnyogyakarta-sahabatjuara

1. Validasi Emosi, Bukan Perilakunya

Katakan:

“Kamu kecewa karena waktunya bermain sudah selesai.”

Bukan berarti orang tua membolehkan semua perilaku. Perasaan diterima, tetapi tetap ada batasan.

2. Berikan Pilihan Terbatas

Daripada:

“Mau mandi atau tidak?”

coba:

“Mau mandi sekarang atau setelah merapikan mainan?”

Anak tetap memiliki kesempatan memilih, tetapi orang tua tetap memegang batasan.

3. Tetap Tenang Saat Tantrum

Anak membutuhkan orang dewasa yang stabil ketika dirinya belum mampu mengatur emosi.

Tujuan utama bukan membuat anak diam secepat mungkin, tetapi membantunya kembali tenang.

4. Bangun Rutinitas Konsisten

Rutinitas membuat anak lebih mudah memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya.

Misalnya:

bangun → mandi → makan → bermain → tidur → bermain → makan → persiapan pulang.

Rutinitas tidak harus kaku, tetapi sebaiknya cukup konsisten.

Rutinitas yang konsisten sangat penting bagi bocah, sebaiknya hindari aktivitas harian yang sering berubah dan tidak terprediksi oleh bocah; seperti anak yang sudah masuk daycare tetapi karena alasan tertentu kadang masuk, kadang tidak masuk, jadwal antar jemput yang kadang berbeda dan kadang izin tidak masuk karena gantian dititipkan keluarga lain seperti kakek, nenek, om tante, atau tetangga karena tidak sempat antar. Di Sahabat Juara aktivitas bocah sudah disusun dengan stimulasi tumbuh kembang terstruktur dan ada alur capaian sebagai pedoman untuk stimulasi, bukan untuk membandingkan kemampuan antar anak. Sahabat Juara Daycare bukan sekedar anak dititipkan dan dijemput saat orang tua selesai beraktivitas. Capaian Pembelajaran ini terus berkesinambungan sampai anak tumbuh dan melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

5. Kenali Pemicu Tantrum

Perhatikan kapan tantrum sering muncul.

Apakah ketika lapar, mengantuk, berhenti bermain, berada di tempat ramai, atau setelah terlalu banyak aktivitas?

Mengetahui pemicu membantu orang tua melakukan pencegahan.

6. Berikan Kesempatan untuk Mandiri

Biarkan anak mencoba:

  • memakai sepatu;
  • merapikan mainan;
  • membawa barang ringan;
  • memilih pakaian;
  • mencuci tangan;
  • membantu pekerjaan sederhana.

Tidak harus sempurna. Proses mencoba itulah bagian dari pembelajaran.

7. Jadilah Jangkar Emosi Anak

Ketika anak kehilangan kendali, orang dewasa perlu menjadi pihak yang paling stabil.

Redam emosi, jangan menambah bahan bakar.

Pengaruh Konsistensi Pengasuhan dan Screen Time

Konsistensi Pengasuhan

Jika ayah, bunda, kakek-nenek, nanny, atau pengasuh memberikan aturan yang sangat berbeda, anak dapat menerima pesan yang membingungkan.

Tidak berarti semua orang harus menggunakan kalimat yang sama. Yang penting adalah ada kesepakatan mengenai batasan, rutinitas, dan respons terhadap perilaku anak.

Hal ini juga penting ketika anak mendapatkan pengasuhan di luar rumah, termasuk daycare.

Bagaimana dengan Screen Time?

Anak usia dini membutuhkan banyak kesempatan untuk bermain, bergerak, berbicara, mengeksplorasi, dan berinteraksi langsung.

CDC merekomendasikan screen time untuk anak usia 2 tahun maksimal sekitar 1 jam per hari untuk program anak, dengan pendampingan orang dewasa. Di Sahabat Juara memilih berkomitmen sebagai arena tanpa screen time, karena di lingkungan terdekat kita, kita lebih sering tidak bisa kontrol tayangan apa yang dilihat bocah, dan jika kami ditanya kenapa no screen time, kami akan bertanya kembali, Jika dokter anak yang ayah-bunda percaya membolehkan 1 jam screen time untuk usia 2 tahun; milestone apa yang sudah dicapai saat ini saat mereka screen time? konten apa yang disajikan untuk anak dan mudah diakses mereka? lalu apa yang ayah bunda lakukan saat anak konsumsi konten tersebut? dan masih ada daftar pertanyaan yang kami ajukan pada ayah-bunda jika di rumah si bocah screen time…

Namun, tantrum tidak tepat jika selalu disimpulkan hanya karena gadget. Kondisi anak perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk tidur, lapar, temperamen, pola pengasuhan, kemampuan bahasa, dan lingkungan.

Yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua

Hindari:

  • terlalu mengontrol setiap aktivitas anak;
  • mengkritik setiap kesalahan;
  • berdebat panjang ketika anak sedang tantrum;
  • memberi label “nakal” atau “bandel”;
  • tidak konsisten dengan batasan;
  • mengancam secara berlebihan;
  • mempermalukan anak;
  • membalas pukulan dengan pukulan.

Saat tantrum memuncak, anak biasanya sulit menerima penjelasan panjang. Bantu ia aman dan tenang terlebih dahulu. Pembicaraan dapat dilakukan setelah emosinya lebih stabil.

Tantrum Bukan Sekadar Masalah Kedisiplinan

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menjelaskan bahwa tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan anak, terutama pada usia toddler. Orang tua dapat membantu dengan tetap tenang, memberikan pilihan yang terarah, serta memperhatikan dan memperkuat perilaku positif.

Sementara itu, pendekatan perkembangan anak dari ZERO TO THREE menekankan bahwa anak usia 2 tahun masih belajar mengenali dan mengelola perasaan sehingga membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memberi nama pada emosi dan menemukan cara yang lebih tepat untuk mengekspresikannya.

Artinya, tujuan pengasuhan bukan hanya membuat anak berhenti tantrum, tetapi membantu anak membangun keterampilan regulasi emosi secara bertahap.

Bocah Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Dalam mendampingi anak usia dini, penting untuk mengingat bahwa anak tidak membutuhkan orang dewasa yang selalu benar.

Anak membutuhkan orang dewasa yang mau belajar membaca kebutuhannya dan berusaha memberikan respons yang konsisten.

Ada hari ketika anak mampu mengikuti aturan dengan baik. Ada pula hari ketika ia lebih mudah menangis dan frustrasi.

Perkembangan memang tidak selalu berjalan lurus.

Karena itu, daripada hanya bertanya:

“Bagaimana supaya anak tidak tantrum?”

lebih membantu jika kita bertanya:

“Apa yang sedang dikomunikasikan anak melalui perilakunya, dan keterampilan apa yang sedang perlu saya bantu?”

Sudut pandang ini membantu orang tua melihat tantrum bukan hanya sebagai masalah perilaku, tetapi sebagai kesempatan untuk mengajarkan komunikasi, regulasi emosi, kemandirian, dan batasan.

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi dengan Ahli?

Tantrum merupakan hal yang umum, tetapi orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter anak, psikolog anak, atau tenaga profesional tumbuh kembang apabila:

  • tantrum sangat sering, sangat intens, atau sulit dihentikan;
  • anak melukai dirinya sendiri atau orang lain secara signifikan;
  • terdapat keterlambatan bahasa;
  • ada kekhawatiran terhadap perkembangan sosial atau komunikasi;
  • perilaku sangat sulit tidak menunjukkan perbaikan seiring bertambahnya usia.

Bahan sumber juga menekankan perlunya evaluasi apabila perilaku sulit diatur tetap berlangsung setelah usia 4 tahun atau terdapat tanda perkembangan lain yang mengkhawatirkan.

Tantrum saja tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis autisme atau gangguan perkembangan tertentu. Evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh oleh tenaga profesional.

FAQ Seputar Terrible Twos

Apakah semua anak pasti mengalami terrible twos?

Tidak. Temperamen, karakteristik anak, pengalaman, lingkungan, dan pola pengasuhan dapat membuat intensitas fase ini berbeda-beda.

Terrible twos berlangsung sampai usia berapa?

Umumnya dapat mulai sekitar 18 bulan dan pada sebagian anak masih terlihat hingga usia 3–4 tahun. Intensitasnya biasanya berkurang seiring berkembangnya kemampuan komunikasi dan regulasi emosi.

Apakah anak yang sering tantrum berarti nakal?

Tidak. Tantrum merupakan salah satu cara anak mengekspresikan emosi ketika kemampuan regulasi dan komunikasinya masih berkembang.

Apakah anak memukul berarti agresif?

Tidak selalu. Perilaku memukul atau menggigit dapat muncul karena frustrasi, mempertahankan mainan, mencari perhatian, atau kesulitan menyampaikan perasaan.

Bolehkah memukul anak agar berhenti tantrum?

Tidak disarankan. Kekerasan bukan cara yang tepat untuk mengajarkan regulasi emosi dan dapat mengajarkan anak bahwa kekerasan merupakan cara menyelesaikan konflik.

Apakah terrible twos merupakan tanda autisme?

Tantrum saja tidak cukup untuk menyimpulkan autisme. Jika disertai keterlambatan bahasa, komunikasi, interaksi sosial, atau kekhawatiran perkembangan lainnya, konsultasikan dengan tenaga profesional.

Baca Juga: Bayi Sering Bangun Malam? Ini Cara Membantu Bayi Tidur Lebih Lama dan Nyenyak

Kesimpulan: Terrible Twos Adalah Bagian dari Proses Tumbuh

Menghadapi anak usia 2–4 tahun memang tidak selalu mudah.

Ada masa ketika hampir semua permintaan dijawab dengan “tidak”. Ada saat anak menangis karena hal kecil, ingin melakukan semuanya sendiri, atau menjadi sangat marah ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Namun, terrible twos bukan berarti anak sedang menjadi nakal.

Anak sedang belajar tentang dirinya, kemandirian, emosi, komunikasi, batasan, dan hubungan dengan orang lain.

Tugas orang tua bukan menghilangkan semua emosi negatif anak, tetapi mendampinginya agar mampu melewati emosi tersebut dengan aman.

Berikan batasan yang jelas, validasi perasaannya, berikan kesempatan untuk mandiri, bangun rutinitas yang konsisten, dan ajarkan cara berkomunikasi yang lebih tepat.

Bagi ayah bunda yang membutuhkan lingkungan pengasuhan terstruktur untuk anak usia 2–4 tahun, memilih rekomendasi tempat penitipan anak Yogyakarta NPSN juga sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan lokasi dan fasilitas. Perhatikan bagaimana pengasuh merespons tantrum, menetapkan batasan, mendampingi emosi, memberikan kesempatan anak mandiri, serta berkomunikasi dengan keluarga. 

Karena bagi anak usia dini, daycare bukan sekadar tempat dititipkan. Lingkungan pengasuhan adalah bagian dari proses anak belajar bertumbuh.

Disclaimer

Artikel ini merupakan edukasi umum mengenai perkembangan dan pengasuhan anak, bukan alat diagnosis. Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Jika ayah bunda memiliki kekhawatiran tentang perilaku, bahasa, emosi, atau perkembangan anak, konsultasikan dengan profesional tumbuh kembang yang sesuai.

Referensi

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Milestones by 2 Years.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Positive Parenting Tips: Toddlers 2–3 Years Old.
  • American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org, Temper Tantrums.
  • ZERO TO THREE, perkembangan anak usia 24–36 bulan.
  • Erik Erikson, tahap perkembangan psikososial Autonomy vs. Shame and Doubt.