Daycare di Jogja berizin resmi Disdikpora – “Kenapa saya tidak langsung merasa dekat dengan bayi saya?”
“Kenapa saya justru sering kesal ketika bayi menangis?”
“Saya sayang bayi saya, tetapi kadang rasanya sebel sekali.”
“Saya merasa seperti tidak punya ikatan dengan bayi sendiri.”
Pertanyaan seperti ini mungkin terasa menakutkan bagi ibu baru. Terlebih, masyarakat sering menggambarkan kelahiran bayi sebagai momen ketika seorang ibu langsung merasakan cinta yang luar biasa.
Padahal, kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Setelah melahirkan, seorang ibu sedang mengalami perubahan besar secara fisik, hormonal, emosional, dan sosial. Kurang tidur, proses pemulihan tubuh, tuntutan menyusui, tangisan bayi, serta perubahan peran menjadi ibu dapat membuat emosi naik turun.
Karena itu, tidak langsung merasa bonding dengan bayi, merasa cemas, kesal, mudah marah, atau bahkan merasa “sebel” kepada bayi tidak otomatis berarti ibu adalah ibu yang buruk.
Perasaan tersebut juga tidak selalu berarti depresi pascapersalinan.
Namun, perasaan negatif terhadap bayi tetap perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung lama, semakin berat, mengganggu kemampuan ibu menjalani kehidupan sehari-hari, atau disertai pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Lalu, apakah tidak merasa bonding dan sering kesal kepada bayi merupakan baby blues atau tanda kondisi lain?
Mari kita pahami perbedaannya.
Apakah Normal Jika Ibu Tidak Langsung Merasa Bonding dengan Bayi?
Ya, bonding tidak selalu terjadi secara instan.
Banyak orang mengira bahwa begitu bayi lahir, seorang ibu pasti langsung merasakan ikatan emosional yang sangat kuat.
Kenyataannya, hubungan antara orang tua dan bayi dapat tumbuh secara bertahap.
ACOG menjelaskan bahwa tidak semua orang tua langsung merasa terhubung dengan bayinya. Bonding dapat berkembang melalui proses sehari-hari seperti menyentuh, menggendong, berbicara, menenangkan, memberi makan, dan merespons kebutuhan bayi.
Artinya, jika beberapa hari atau minggu setelah melahirkan Bunda berpikir:
“Saya belum merasa dekat dengan bayi saya.”
hal tersebut tidak otomatis berarti ada sesuatu yang salah dengan Bunda.
Bahkan, bonding dapat terus berkembang selama proses pengasuhan berlangsung.
Bonding Bukan Perlombaan
Tidak ada batas waktu bahwa seorang ibu harus sudah merasa “sangat mencintai” bayinya pada hari pertama, minggu pertama, atau bulan pertama.
Hubungan antara bayi dan orang tua dibangun melalui ribuan interaksi kecil yang dilakukan berulang kali.
Ketika ibu menggendong bayi yang menangis, menyusui, mengganti popok, berbicara, menatap wajah bayi, atau merespons kebutuhan bayi, proses hubungan tersebut sedang dibangun.
Karena itu:
Tidak langsung merasa bonding ≠ tidak mencintai bayi.
Apakah Baby Blues Bisa Membuat Ibu Kesal atau Marah kepada Bayi?
Bisa.
Baby blues dapat membuat suasana hati ibu berubah-ubah. Ibu dapat merasa sedih, mudah menangis, cemas, mudah tersinggung, frustrasi, atau marah.
Dalam kondisi tertentu, ibu bahkan dapat merasa marah kepada bayi ketika bayi terus menangis atau kebutuhannya terasa tidak ada habisnya.
Hal ini menjadi lebih mungkin terjadi ketika ibu:
- kurang tidur;
- tubuh masih dalam proses pemulihan;
- harus menyusui berkali-kali;
- merasa sendirian;
- tidak mendapatkan cukup bantuan;
- atau merasa kewalahan dengan tanggung jawab baru.
Jadi, kalimat seperti:
“Saya sebenarnya sayang bayi saya, tapi saya sangat kesal ketika dia menangis terus.”
tidak otomatis berarti ibu mengalami gangguan mental yang berat.
Yang perlu dilihat adalah keseluruhan kondisi ibu.
“Saya Seperti Membenci Bayi Saya.” Apakah Ini Baby Blues?
Jawabannya: bisa terjadi dalam kondisi baby blues, tetapi tidak selalu berarti baby blues.
Kata “membenci” yang digunakan ibu perlu dipahami dalam konteks.
Kadang sebenarnya yang dimaksud adalah:
- “Saya sangat lelah.”
- “Saya tidak tahan mendengar tangisan bayi lagi.”
- “Saya ingin menjauh sebentar.”
- “Saya merasa kewalahan.”
- “Saya ingin tidur dan tidak diganggu.”
Perasaan tersebut dapat muncul ketika kebutuhan fisik dan emosional ibu sudah berada di batas kemampuan.
Karena itu, jangan buru-buru memberi label kepada ibu.
Yang perlu ditanyakan justru:
- Sudah berapa lama perasaan tersebut muncul?
- Seberapa sering?
- Apakah semakin berat?
- Apakah ibu masih dapat merawat dirinya?
- Apakah ibu masih dapat merawat bayinya?
- Apakah ibu mendapatkan waktu istirahat?
- Apakah ibu memiliki dukungan?
- Apakah ibu merasa sangat sedih atau kosong?
- Apakah ibu mengalami kecemasan yang berlebihan?
- Apakah ada pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih membantu daripada sekadar bertanya:
“Kok kamu tidak sayang anak sendiri?”
Perasaan Bukan Berarti Tindakan
Ini salah satu pesan terpenting yang perlu dipahami orang tua.
Perasaan bukanlah tindakan.
Seorang ibu dapat merasa sangat marah tanpa memiliki keinginan untuk menyakiti bayinya.
Seorang ibu dapat merasa ingin menjauh sebentar karena sangat lelah tanpa berarti ia tidak mencintai anaknya.
Seorang ibu dapat merasa belum memiliki bonding tanpa berarti ia tidak akan memiliki hubungan yang dekat dengan anaknya.
Justru ketika ibu merasa aman untuk menceritakan perasaannya tanpa takut dihakimi, keluarga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengetahui apakah ibu membutuhkan sekadar dukungan atau memerlukan bantuan profesional.
Kapan Perasaan Tidak Bonding Perlu Diperhatikan Lebih Serius?
Tidak merasa langsung bonding bukan diagnosis.
Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih apabila disertai gejala lain yang menetap atau semakin berat.
Misalnya ibu:
- terus-menerus merasa sangat sedih atau kosong;
- kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai;
- merasa dirinya ibu yang buruk atau tidak berguna;
- merasa tidak mampu merawat bayi;
- mengalami kecemasan atau kepanikan yang berat;
- terus-menerus merasa terputus dari bayi;
- kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari;
- mengalami gangguan tidur yang tidak hanya disebabkan oleh kebutuhan bayi;
- merasa sangat kewalahan;
- atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Dalam situasi seperti ini, jangan hanya mengatakan:
“Nanti juga hilang sendiri.”
Ibu perlu mendapatkan evaluasi dari tenaga kesehatan.
Baby Blues atau Depresi Pascapersalinan? Kenali Perbedaannya
Baby blues dan depresi pascapersalinan bukan kondisi yang sama.
Baby Blues
Baby blues umumnya:
- muncul pada hari-hari awal setelah melahirkan;
- relatif ringan;
- membuat mood mudah berubah;
- dapat membuat ibu mudah menangis atau tersinggung;
- dapat disertai kecemasan;
- biasanya membaik dalam sekitar dua minggu.
Dukungan, istirahat, bantuan pasangan, dan waktu dapat membantu ibu melewati periode ini.
Depresi Pascapersalinan
Depresi pascapersalinan dapat lebih berat dan membutuhkan evaluasi serta penanganan profesional.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah ibu sedih, tetapi seberapa berat gejalanya dan bagaimana pengaruhnya terhadap fungsi ibu sehari-hari.
Jika ibu terus mengalami kesedihan, kecemasan, kehilangan minat, merasa tidak mampu, mengalami gangguan bonding, atau kesulitan menjalankan kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut perlu dibicarakan dengan tenaga profesional.
Jangan Hanya Menggunakan Durasi sebagai Patokan
Dua minggu memang merupakan salah satu batas penting dalam membedakan baby blues dengan kondisi yang lebih serius.
Namun, jangan menunggu dua minggu jika gejalanya sudah sangat berat.
Jika sejak awal ibu menunjukkan tanda bahaya, bantuan perlu dicari segera, bukan menunggu gejala berlangsung selama dua minggu.
Tidak Semua Masalah Mental Setelah Melahirkan Terlihat sebagai Kesedihan
Ini bagian yang sering terlewat.
Ada ibu yang tidak tampak sedih, tetapi mengalami kecemasan pascapersalinan atau postpartum anxiety.
Ibu mungkin terlihat sangat sibuk merawat bayinya, tetapi pikirannya terus dipenuhi ketakutan.
Misalnya:
- takut bayi sakit;
- takut bayi berhenti bernapas;
- terus-menerus mengecek kondisi bayi;
- takut melakukan kesalahan;
- panik ketika bayi menangis;
- takut sendirian dengan bayi;
- terus membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada bayi.
ACOG memasukkan gangguan kecemasan perinatal sebagai salah satu kondisi kesehatan mental yang dapat muncul selama kehamilan maupun setelah melahirkan.
Gejalanya dapat mencakup kecemasan intens, rasa takut, ketegangan, serangan panik, gangguan tidur, dan pikiran mengganggu atau intrusive thoughts.
Karena itu, ibu yang tidak terlihat menangis belum tentu baik-baik saja.
Apa Itu Intrusive Thoughts Setelah Melahirkan?
Intrusive thoughts adalah pikiran, gambaran, atau dorongan yang muncul secara tidak diinginkan dan dapat terasa sangat mengganggu.
Misalnya seorang ibu tiba-tiba memiliki pikiran menakutkan tentang sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya.
Yang perlu dipahami adalah:
memiliki pikiran yang tidak diinginkan tidak otomatis berarti seseorang ingin melakukan pikiran tersebut.
Bahkan, pikiran tersebut dapat membuat ibu merasa takut dan bersalah.
Namun, intrusive thoughts tetap perlu diperhatikan, terutama jika:
- muncul berulang kali;
- sangat mengganggu;
- membuat ibu tidak mampu menjalani aktivitas;
- membuat ibu takut terhadap dirinya sendiri;
- atau disertai keinginan maupun niat untuk melakukan tindakan yang membahayakan.
ACOG merekomendasikan tenaga kesehatan menilai kondisi mental perinatal secara menyeluruh dan memperhatikan adanya pikiran yang tidak diinginkan maupun risiko menyakiti diri sendiri atau bayi.
Karena itu, ibu tidak perlu menyimpan pikiran tersebut sendirian.
Bagaimana Membedakan Pikiran Mengganggu dengan Keinginan Menyakiti Bayi?
Ini merupakan perbedaan yang penting.
Pikiran yang tidak diinginkan
Contohnya:
“Saya tiba-tiba membayangkan bayi saya jatuh. Saya takut sekali punya pikiran seperti itu.”
Ibu merasa terganggu, takut, dan tidak menginginkan pikiran tersebut.
Keinginan atau niat menyakiti
Berbeda jika ibu mengatakan:
“Saya ingin menyakiti bayi saya.”
atau merasa tidak mampu menjamin keselamatan dirinya maupun bayinya.
Situasi tersebut harus dianggap serius.
Jangan membiarkan ibu sendirian dengan bayi dan segera cari bantuan medis/profesional.
Postpartum Psychosis: Kondisi yang Berbeda dan Darurat
Ada kondisi yang jauh lebih serius daripada baby blues atau depresi pascapersalinan, yaitu postpartum psychosis.
Kondisi ini jarang terjadi, tetapi merupakan keadaan darurat medis.
Tanda yang dapat muncul antara lain:
- mendengar suara yang sebenarnya tidak ada;
- melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada;
- memiliki keyakinan yang tidak sesuai kenyataan;
- paranoia;
- kebingungan berat;
- perilaku yang sangat tidak biasa;
- perubahan mood yang ekstrem;
- kondisi sangat bersemangat atau agitasi;
- kesulitan membedakan kenyataan dan apa yang tidak nyata.
Misalnya seorang ibu mengatakan:
“Ada suara yang menyuruh saya melakukan sesuatu kepada bayi.”
atau:
“Saya yakin ada orang yang ingin mencelakai saya dan bayi.”
atau:
“Saya melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.”
Ini bukan kondisi yang sebaiknya ditunggu sampai baby blues hilang.
Postpartum psychosis membutuhkan pertolongan medis segera.
Baby Blues, Depresi, Anxiety, dan Postpartum Psychosis: Apa Bedanya?
Berikut gambaran sederhana untuk membantu keluarga mengenali kapan perlu mencari bantuan:
| Kondisi | Gambaran umum | Apa yang perlu dilakukan |
| Baby blues | Mood mudah berubah, menangis, sensitif, cemas, mudah kesal, biasanya ringan dan membaik | Dukungan, istirahat, bantuan pasangan/keluarga |
| Depresi pascapersalinan | Sedih/kosong, kehilangan minat, merasa tidak mampu, bonding terganggu, fungsi sehari-hari terganggu | Konsultasi tenaga profesional |
| Postpartum anxiety | Kekhawatiran berlebihan, panik, takut terus-menerus, pikiran mengganggu | Konsultasi tenaga profesional |
| Intrusive thoughts | Pikiran mengganggu yang tidak diinginkan tentang sesuatu yang buruk terjadi | Ceritakan kepada tenaga kesehatan, terutama bila berulang atau sangat mengganggu |
| Risiko menyakiti diri/bayi | Ada keinginan atau niat melakukan tindakan yang membahayakan | Pertolongan profesional segera; jangan biarkan ibu sendirian |
| Postpartum psychosis | Halusinasi, delusi, paranoia, kebingungan berat, sulit membedakan kenyataan | Darurat medis |
Tabel ini bukan alat untuk mendiagnosis diri sendiri. Diagnosis tetap membutuhkan penilaian tenaga kesehatan.
Kapan Ibu Harus Mencari Bantuan Profesional?
Bunda sebaiknya berbicara dengan bidan, dokter, psikolog, atau psikiater apabila:
- perasaan sedih atau cemas tidak membaik;
- kondisi semakin berat;
- sulit menjalankan aktivitas sehari-hari;
- merasa tidak mampu merawat bayi;
- merasa terus-menerus tidak terhubung dengan bayi;
- mengalami kecemasan atau kepanikan yang berat;
- mengalami intrusive thoughts yang sangat mengganggu;
- atau merasa membutuhkan bantuan tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi sangat parah untuk meminta bantuan.
Meminta pertolongan lebih awal bukan berarti ibu gagal.
Justru, semakin cepat masalah dikenali, semakin cepat ibu dan keluarga dapat mendapatkan dukungan yang sesuai.
Bagaimana Pasangan Bisa Membantu Ibu yang Mengalami Kondisi Ini?
Respons pasangan sangat berpengaruh.
Hindari mengatakan:
- “Kamu harusnya bahagia.”
- “Itu anakmu sendiri.”
- “Jangan lebay.”
- “Ibu lain juga mengalami hal yang sama.”
- “Kurang bersyukur.”
Kalimat seperti itu mungkin dimaksudkan untuk menyemangati, tetapi dapat membuat ibu semakin merasa bersalah dan memilih diam.
Lebih baik katakan:
- “Aku dengar kamu.”
- “Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
- “Aku bantu jaga bayi supaya kamu bisa istirahat.”
- “Kalau kamu merasa ini semakin berat, kita cari bantuan bersama.”
Dukungan juga tidak hanya berupa kata-kata.
Pasangan dapat membantu dengan:
- mengambil alih pekerjaan rumah;
- membantu merawat bayi;
- memberikan kesempatan ibu tidur;
- memastikan ibu makan dan minum;
- menemani konsultasi;
- dan membantu mencari tenaga profesional jika diperlukan.
Bagaimana Membantu Ibu Membangun Bonding dengan Bayi?
Bonding tidak harus dilakukan melalui aktivitas khusus yang rumit.
Hubungan dapat dibangun melalui rutinitas pengasuhan sehari-hari.
Kontak Kulit dan Sentuhan
Menggendong dan melakukan kontak fisik dengan bayi dapat menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan.
Berbicara kepada Bayi
Bayi dapat mendengar suara orang tua dan secara bertahap mengenali suara yang sering didengarnya.
Berbicara, bernyanyi, atau membacakan cerita menjadi bentuk interaksi sederhana.
Merespons Kebutuhan Bayi
Ketika ibu merespons tangisan, rasa lapar, ketidaknyamanan, atau kebutuhan bayi untuk digendong, bayi mendapatkan pengalaman bahwa ada orang dewasa yang hadir dan merespons kebutuhannya.
Menikmati Momen Kecil
Bonding tidak harus berupa perasaan “haru” setiap saat.
Memandang wajah bayi, memeluk setelah mandi, menyusui, mengganti popok sambil berbicara, atau menenangkan bayi ketika menangis juga merupakan bagian dari hubungan yang sedang dibangun.
Bonding Tidak Harus Terjadi Seketika
Dari perspektif kesehatan mental perinatal, tidak adanya perasaan bonding yang langsung kuat sebaiknya tidak digunakan sebagai ukuran apakah seseorang merupakan ibu yang baik atau tidak.
ACOG menjelaskan bahwa orang tua dapat membutuhkan waktu untuk merasa terhubung dengan bayi dan bahwa bonding dapat berkembang secara bertahap.
Ini penting karena tekanan sosial untuk menjadi “ibu yang langsung jatuh cinta” justru dapat menambah rasa bersalah ketika pengalaman nyata ibu berbeda.
Dalam praktik kesehatan mental, yang lebih penting adalah melihat kondisi ibu secara menyeluruh:
Apa yang dirasakan? Seberapa kuat? Berapa lama? Apakah membaik? Apakah mengganggu fungsi? Apakah ada risiko terhadap ibu atau bayi?
Dengan cara pandang seperti ini, keluarga tidak terburu-buru memberi label “ibu tidak sayang anak”, tetapi juga tidak mengabaikan tanda yang membutuhkan pertolongan.
Jangan Menghakimi Perasaan Ibu
Menurut pandangan Sahabat Juara sebagai pendamping pengasuhan anak usia dini, bayi tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang hadir secara fisik.
Bayi membutuhkan orang dewasa yang dapat memberikan pengasuhan yang aman, responsif, dan penuh perhatian.
Karena itu, ketika seorang ibu mengatakan:
“Saya tidak merasa bonding dengan bayi saya.”
respons pertama seharusnya bukan menghakimi.
Dengarkan dulu.
Cari tahu apa yang sedang dialami ibu.
- Apakah ia kurang tidur?
- Apakah ia sendirian mengurus bayi?
- Apakah ia kesulitan menyusui?
- Apakah ia sedang menghadapi tekanan keluarga?
- Apakah ia sangat cemas?
- Apakah ia mengalami gejala yang membutuhkan bantuan profesional?
Ibu juga merupakan bagian dari lingkungan tumbuh kembang bayi.
Ketika ibu mendapatkan dukungan yang tepat, keluarga memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan lingkungan pengasuhan yang aman dan responsif bagi bayi.
Pesan Penting untuk Ibu Baru: Bunda Tidak Harus Langsung Merasa Sempurna
Jika Bunda belum merasa bonding dengan bayi, jangan langsung menyimpulkan:
“Saya ibu yang buruk.”
Jika Bunda merasa kesal karena bayi menangis sepanjang malam, jangan langsung menyimpulkan:
“Saya tidak sayang anak saya.”
Jika Bunda merasa membutuhkan waktu untuk sendiri, jangan langsung merasa bersalah.
Menjadi ibu adalah proses adaptasi.
Hubungan antara ibu dan bayi juga merupakan proses.
Tidak semua ibu langsung merasa terhubung. Tidak semua hari terasa indah. Dan tidak semua ibu merasa bahagia sepanjang waktu setelah melahirkan.
Yang penting adalah Bunda tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.
Namun, jangan pula mengabaikan gejala yang menetap, semakin berat, atau membahayakan.
Baca Juga: Baby Blues vs Kelelahan Setelah Melahirkan, Bagaimana Cara Mengenali dan Membantu Ibu Baru
Kesimpulan, Tidak Langsung Bonding Bukan Berarti Ibu yang Buruk
Tidak merasa langsung dekat dengan bayi, merasa cemas, kesal, mudah marah, atau bahkan merasa sangat kewalahan dapat terjadi pada masa setelah melahirkan.
Sebagian ibu mungkin mengalami baby blues yang bersifat sementara. Namun, sebagian lainnya mungkin membutuhkan evaluasi karena mengalami depresi pascapersalinan, kecemasan pascapersalinan, atau kondisi kesehatan mental lainnya.
Yang membedakan bukan hanya satu perasaan.
Perhatikan durasi, intensitas, perubahan gejala, kemampuan ibu menjalankan aktivitas sehari-hari, serta ada tidaknya tanda bahaya.
Dan satu pesan yang penting untuk diingat:
Perasaan bukanlah tindakan.
Ibu yang merasa kesal bukan berarti ibu jahat.
Ibu yang belum merasa bonding bukan berarti ibu gagal.
Ibu yang meminta bantuan bukan berarti ibu lemah.
Justru, ketika ibu berani mengatakan “saya sedang tidak baik-baik saja”, keluarga memiliki kesempatan untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan.
Jika Bunda sedang mengalami kondisi seperti ini, jangan menghadapi semuanya sendirian. Ceritakan kepada pasangan, keluarga, bidan, dokter, psikolog, atau psikiater sesuai kebutuhan.
Dan ketika Bunda membutuhkan dukungan pengasuhan untuk bayi usia 0–1 tahun, lingkungan pengasuhan yang aman, responsif, dan penuh perhatian juga menjadi bagian penting dari perjalanan tumbuh kembang si kecil.
Sahabat Juara Daycare merupakan taman penitipan anak berizin resmi Dinas Pendidikan di Yogyakarta yang berkomitmen mendampingi kebutuhan pengasuhan- pendidikan anak usia dini sekaligus membangun komunikasi yang baik dengan orang tua, karena kami percaya bahwa mendampingi tumbuh kembang bayi juga berarti mendukung orang dewasa yang merawatnya.
FAQ Tidak Merasa Bonding dengan Bayi
Apakah normal jika ibu tidak langsung merasa sayang kepada bayi?
Bisa terjadi. Bonding dapat berkembang secara bertahap dan tidak harus muncul sebagai perasaan yang sangat kuat sejak hari pertama.
Apakah merasa kesal kepada bayi termasuk baby blues?
Bisa. Baby blues dapat membuat ibu lebih mudah tersinggung, frustrasi, atau marah. Namun, perlu dilihat durasi, intensitas, dan gejala lain yang menyertainya.
Apakah membenci bayi berarti ibu mengalami depresi?
Tidak selalu. Kata “membenci” perlu dipahami dalam konteks. Jika perasaan tersebut menetap, sangat kuat, semakin berat, mengganggu fungsi ibu, atau disertai gejala depresi maupun kecemasan berat, ibu perlu mendapatkan evaluasi profesional.
Apakah tidak bonding dengan bayi berarti ibu tidak mencintai anaknya?
Tidak. Bonding dapat tumbuh melalui interaksi dan pengasuhan sehari-hari.
Apakah kecemasan berlebihan setelah melahirkan normal?
Kekhawatiran tertentu dapat terjadi setelah bayi lahir. Namun, kecemasan yang sangat intens, terus-menerus, mengganggu tidur dan aktivitas, atau menyebabkan kepanikan perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Apakah intrusive thoughts berarti ibu ingin menyakiti bayinya?
Tidak otomatis. Pikiran yang mengganggu dapat muncul tanpa diinginkan. Namun, jika pikiran tersebut sangat mengganggu, berulang, atau disertai keinginan maupun niat menyakiti diri sendiri atau bayi, segera cari bantuan profesional.
Kapan kondisi setelah melahirkan menjadi darurat?
Jika ibu memiliki keinginan atau niat menyakiti diri sendiri atau bayi, atau mengalami halusinasi, delusi, paranoia, kebingungan berat, maupun kesulitan membedakan kenyataan, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Sumber referensi:
https://www.acog.org/womens-health/experts-and-stories/the-latest/bonding-with-your-newborn-heres-what-to-know-if-you-dont-feel-connected-right-away

